Kendari – Prosesi pelantikan Rektor Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) yang berlangsung di Hotel Claro Kendari pada Rabu (31/12) diwarnai kericuhan. Acara yang turut dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Tenggara tersebut sempat memanas hingga petugas keamanan mengunci akses masuk ruang pelantikan.
Ketegangan bermula saat sejumlah mahasiswa melakukan aksi protes di area pelantikan. Mereka mempertanyakan keabsahan rektor yang dilantik dalam prosesi tersebut. Namun, alih-alih mendapatkan jawaban, para mahasiswa tersebut justru diminta paksa meninggalkan lokasi oleh pihak keamanan.
Berdasarkan video yang viral di media sosial, situasi di luar ruang acara tampak tidak terkendali. Beberapa alumni dan dosen terlihat terlibat adu argumen sengit dengan petugas di sekitar pintu masuk.
Guna mengantisipasi massa yang mencoba merangsek masuk, petugas keamanan memutuskan untuk mengunci pintu ruang acara. Akibatnya, tamu undangan yang berada di dalam ruangan tidak dapat keluar, dan tamu di luar tidak diperkenankan masuk.
Pantauan di lokasi menunjukkan pengamanan dilakukan secara ketat dengan melibatkan aparat Satpol PP serta personel TNI yang berjaga di depan pintu utama.
Meski suasana di luar ruangan mencekam, prosesi pelantikan tetap dilaksanakan hingga selesai sesuai agenda. Pihak penyelenggara memastikan bahwa rangkaian acara di dalam ruangan tidak terganggu oleh kericuhan yang terjadi di area lobi.
Kepala Bagian Umum dan Keamanan Unsultra yang berada di lokasi enggan memberikan komentar lebih jauh mengenai tuntutan mahasiswa. Ia hanya menegaskan bahwa agenda utama berjalan lancar.
“Saya tidak bisa komentari itu (kericuhan). Pelantikan di dalam berjalan kondusif dan tertib,” singkatnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Rektorat Unsultra belum memberikan keterangan resmi terkait polemik keabsahan rektor maupun kericuhan yang mencoreng hari pelantikan tersebut. Mahasiswa yang diusir pun tetap tidak diperbolehkan kembali ke area acara hingga kegiatan berakhir.





