Kendari – Perayaan malam pergantian tahun 2025 menjadi momen yang kurang menggembirakan bagi para pedagang kembang api musiman di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Pasalnya, omzet penjualan mereka mengalami penurunan drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Pantauan di sejumlah titik penjualan menunjukkan kelesuan aktivitas ekonomi pada sektor ini. Jika biasanya para pedagang mampu meraup keuntungan hingga jutaan rupiah dalam semalam, kali ini pendapatan mereka rata-rata hanya menyentuh angka ratusan ribu rupiah.
Salah seorang pedagang, La Sali (47), mengungkapkan keresahannya. Pria asal Muna Barat yang menjajakan dagangannya di Jalan Martandu, Kelurahan Kambu, ini merasakan betul perbedaan minat beli masyarakat tahun ini.
“Biasanya tiap tahun baru saya jualan kembang api. Tapi tahun ini memang terasa menurun, saya juga kurang tahu penyebab pastinya,” ujar La Sali kepada awak media, pada Rabu (31/12).
Padahal, kembang api yang dijajakan cukup beragam untuk menjangkau berbagai lapisan kantong masyarakat. Harganya dibanderol mulai dari Rp 10 ribu untuk ukuran terkecil hingga Rp 160 ribu untuk jenis kembang api besar.
Meski pilihan harga sudah dibuat fleksibel, stok barang dagangan para pedagang tampak masih menumpuk hingga menjelang detik-detik pergantian tahun.
Hingga saat ini, para pedagang mengaku belum mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan daya beli masyarakat menurun. La Sali sendiri mengaku tidak mendengar adanya kebijakan atau larangan khusus mengenai penggunaan kembang api yang mungkin memengaruhi antusiasme warga.
“Tidak tahu, mungkin itu (kebijakan/larangan) juga penyebabnya,” tutupnya singkat.
Kondisi sepinya pembeli ini pun menjadi perhatian, mengingat banyak warga yang menggantungkan harapan pada momen musiman ini sebagai sumber penghasilan tambahan di akhir tahun. (tim/knd)







