Konawe – Masyarakat Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, menumpahkan kekecewaan terhadap aktivitas tambang PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) yang terus mengirim material nikel ke Morowali, Sulawesi Tengah. Tahun ini saja, sekitar 19 juta ton tanah diperkirakan telah dikirim tanpa kejelasan pembangunan smelter seperti yang pernah dijanjikan perusahaan.
Warga Routa yang tergabung dalam komunitas Routa Menggugat menilai, perusahaan telah mengingkari komitmen sejak dua dekade lalu. Rafli, salah satu perwakilan warga, menyebut masyarakat telah menyerahkan ribuan hektare lahan damar dan kawasan Danau Taparran Teo dengan harapan ada dampak ekonomi dari kehadiran tambang.
“Selama 20 tahun kami percaya bahwa pengorbanan kami akan dibayar dengan kehidupan yang lebih baik. Tapi yang terjadi, tanah kami diambil jutaan ton dan dikirim keluar daerah tanpa hasil yang kami rasakan,” ujar Rafli.
Wilayah Routa memang menyimpan potensi sumber daya nikel yang sangat besar. Estimasi cadangan di kawasan itu mencapai 1 miliar ton. PT SCM menguasai konsesi seluas 21.100 hektare dengan kandungan sekitar 13,8 juta ton nikel berkadar 1,22% dan 1 juta ton kobalt berkadar 0,08%. Tambang ini memproduksi bijih limonit dan saprolit yang bernilai tinggi untuk industri baterai kendaraan listrik.
“Bayangkan, potensi sebesar itu diambil dari tanah kami, tapi manfaatnya tak dirasakan masyarakat Routa maupun Pemerintah Sultra. Semua hanya lewat di depan mata,” tegas Rafli.
Ia menambahkan, hingga kini tidak ada program nyata pemberdayaan masyarakat, pelatihan kerja, atau pembinaan UMKM yang dijalankan perusahaan. Padahal, aktivitas tambang seharusnya menjadi motor pembangunan ekonomi lokal.
“Kami hanya menuntut keadilan. Kami ingin smelter dibangun di sini, agar kami tidak selamanya jadi penonton di tanah sendiri,” bebernya.
Rafli juga mengungkapkan bahwa proyek Indonesia Konawe Industrial Park (IKIP), yang dulunya diproyeksikan sebagai lokasi smelter, kini terbengkalai. Semua peralatan dan material pembangunan disebut sudah dipindahkan ke Morowali.
“Semua peralatan yang dipakai membangun smelter sudah kosong, sudah dipindahkan. Malah sudah ada pipa besar yang mau dibangun menuju ke Morowali. Karyawan IKIP sudah di-PHK,” tutup Rafli.
Diketahui, warga Routa telah melakukan pertemuan dengan Gubernur Sultra Andi Sumangerukka dan DPRD Sultra pada September 2025. Namun hingga kini, belum ada kejelasan terkait nasib pembangunan smelter dan harapan masyarakat Routa yang ingin menikmati hasil kekayaan daerahnya sendiri.







