Kendari – Masyarakat Kelurahan Routa, Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, hingga kini masih terjebak dalam keterbatasan infrastruktur dasar. Akses jalan yang rusak parah serta pasokan listrik yang kerap padam menjadi persoalan menahun yang tak kunjung mendapat solusi permanen dari pemerintah maupun perusahaan di wilayah tersebut.
Salah seorang warga Routa, Ahmad, mengungkapkan bahwa jalur sepanjang 80 kilometer dari Tetewatu menuju Routa hampir tidak pernah tersentuh perbaikan serius. Kondisi ini diklaim menghambat aktivitas ekonomi dan mobilitas warga secara signifikan.
“Jalan rusak parah sejak dulu. Kehadiran perusahaan di sekitar wilayah kami tidak memberikan manfaat yang signifikan bagi perbaikan infrastruktur jalan tersebut,” ujar Ahmad, pada Jumat (20/2).
Selain masalah transportasi, warga juga mengeluhkan krisis listrik. Pemadaman sering terjadi dengan durasi hingga satu minggu, yang sangat mengganggu aktivitas warga, terutama pada malam hari. Ironisnya, di tengah keterbatasan itu, aktivitas pertambangan di wilayah tersebut justru diduga mencemari Sungai Lalindu yang selama ini menjadi sumber air warga.
Ahmad juga menyoroti ketimpangan perhatian dari perusahaan yang beroperasi di Routa. Menurutnya, PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) dinilai minim kontribusi bagi masyarakat luas. Sebaliknya, warga justru mendapat bantuan pengerasan jalan dari PT Abadi Nikel Nusantara (ANN), perusahaan asal Morowali yang secara operasional tidak menggunakan jalur tersebut.
Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan melihat kondisi Routa yang terisolasi. Pasalnya, sektor pertambangan di wilayah terpencil ini menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang cukup besar, namun manfaatnya belum dirasakan secara merata oleh masyarakat setempat.
(dil/knd)







