Konawe Selatan – Dua destinasi wisata bahari di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, terancam hilang dari daftar kunjungan wisata akibat aktivitas pertambangan di sekitarnya. Dua destinasi tersebut adalah Pantai Senja dan Tanjung Kartika yang berada di Desa Wawatu, Kecamatan Moramo Utara.
Pantai berpasir putih dan bentang alam yang masih alami selama ini menjadi daya tarik utama Pantai Senja dan Tanjung Kartika. Lokasinya yang jauh dari permukiman warga membuat kawasan ini dikenal sebagai destinasi dengan suasana tenang dan eksklusif, sekaligus menjadi magnet bagi wisatawan dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, aktivitas pertambangan batu gamping yang semakin masif di sekitar kawasan tersebut dinilai mengancam keberlanjutan dua destinasi wisata tersebut. Dampak lingkungan yang ditimbulkan disebut berpotensi menghapus Pantai Senja dan Tanjung Kartika dari peta kunjungan wisata di Konawe Selatan.
Praktisi pariwisata Sulawesi Tenggara, Ahmad Nizar, menilai kondisi ini hanya tinggal menunggu waktu. Menurutnya, kawasan Moramo dan Moramo Utara memang dikenal sebagai wilayah primadona tambang batu gamping, namun ia tidak menyangka aktivitas tambang telah merambah hingga kawasan wisata.
“Kalau melihat kondisi lingkungan saat ini, saya yakin Pantai Senja dan Tanjung Kartika tidak akan lagi masuk dalam daftar kunjungan wisata. Dampaknya sudah sangat nyata,” kata Nizar.
Ia menambahkan, ancaman serupa berpotensi terjadi di wilayah lain di Sulawesi Tenggara. Nizar menyebut, kerusakan destinasi wisata akibat pertambangan adalah “bom waktu” yang dapat meledak kapan saja jika tidak ada kebijakan tegas terkait peruntukan kawasan.
Menurut Nizar, kondisi ini sangat disayangkan di tengah upaya berbagai pihak—mulai dari pemerintah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, hingga media—yang selama ini berjuang membangun citra dan pengembangan pariwisata Sulawesi Tenggara hingga ke tingkat nasional dan internasional.
“Prestasi pariwisata yang sudah dibangun bisa runtuh jika kebijakan izin kawasan tidak dikaji secara serius,” ujarnya.
Berdasarkan data dari sejumlah lembaga dan komunitas lingkungan bahari, sejak 2022 telah dilakukan rehabilitasi terumbu karang di perairan Desa Wawatu untuk menjaga ekosistem laut di sekitar kawasan wisata. Namun, upaya tersebut dinilai belum mampu menahan dampak masif aktivitas pertambangan batu gamping yang terus berlangsung.






